PROYEKSI.ID, BANDARLAMPUNG — Eksekutif Nasional AKKI, Benny N.A Puspanegara, mengecam keras sikap pejabat publik. Ia menilai sejumlah pejabat tidak menghargai kerja jurnalistik.
Menurut Benny, pejabat sering minta wartawan datang untuk konfirmasi. Namun setelah itu mereka menghilang tanpa penjelasan.
“Ini bentuk buruknya etika pelayanan publik. Ini juga cerminan mentalitas birokrasi yang anti transparansi,” ujar Benny.
Benny: Jabatan Adalah Amanah, Bukan Mahkota
Benny menegaskan ini bukan sekadar soal komunikasi. Ini soal mentalitas pelayanan publik.
“Jabatan itu bukan mahkota kekuasaan. Jabatan adalah amanah negara yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat,” tegasnya.
Ia menilai masih ada pejabat yang berubah setelah menjabat. Baru menikmati fasilitas kantor, ajudan, dan ruang ber-AC, mereka merasa paling penting.
Akibatnya, pejabat itu sulit diakses publik dan media.
Wartawan Adalah Kontrol Sosial, Bukan Pengganggu
Benny menegaskan wartawan bukan pengganggu kantor pemerintahan. Wartawan adalah representasi masyarakat yang menjalankan fungsi kontrol sosial.
“Kalau wartawan dihargai, berarti masyarakat dihargai. Tapi kalau wartawan dipermainkan, publik akan menilai rakyat sedang diremehkan,” ujarnya.
Ia juga menyindir budaya pejabat yang mudah menghindar saat dimintai klarifikasi. Padahal pejabat itu sangat aktif saat ada agenda pencitraan.
“Kalau ada acara seremonial, potong pita, atau foto-foto, wartawan dicari siang malam. Tapi ketika dikonfirmasi soal persoalan publik, mendadak sedang rapat atau tidak ada di tempat,” katanya.
Transparansi Adalah Kewajiban, Bukan Pilihan
Menurut Benny, publik saat ini sudah cerdas. Publik bisa membedakan pejabat yang benar-benar bekerja untuk rakyat. Publik juga tahu mana yang hanya sibuk membangun citra.
Ia mengingatkan, pers adalah salah satu pilar demokrasi yang dijamin undang-undang. Karena itu, pejabat tidak boleh alergi terhadap kritik maupun konfirmasi media.
“Jangan sampai muncul kesan, saat dipuji paling depan. Tapi saat dikritik, mendadak menghilang seperti chat yang sudah dibaca tapi tidak dibalas,” sindirnya.
Benny menambahkan, budaya menghindar dari pertanyaan publik justru menimbulkan kecurigaan.
“Semakin pejabat menghindar, semakin publik curiga ada sesuatu yang ditutupi,” ucapnya.
Ia berharap seluruh pejabat, khususnya di pemerintahan, mulai membuka diri terhadap kritik. Mereka juga harus menghargai kerja jurnalistik sebagai bagian penting demokrasi.
“Transparansi bukan pilihan, tetapi kewajiban. Menghargai wartawan sejatinya adalah menghargai demokrasi itu sendiri,” pungkasnya. (Ar/*/Red)











