PROYEKSI.ID, BANDARLAMPUNG — Upaya memperkuat ketahanan ideologi generasi muda terus dilakukan melalui kolaborasi lintas lembaga. Densus 88 Antiteror Polri bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung menggelar sosialisasi wawasan kebangsaan bagi siswa SMA se-Provinsi Lampung.
Kegiatan ini menjadi langkah pencegahan dini terhadap penyebaran paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme di lingkungan pelajar.
Kegiatan edukatif tersebut menghadirkan jajaran Satgaswil Lampung, kepala sekolah, dewan guru, pengurus OSIS, akademisi, hingga mantan narapidana terorisme. Mereka memberikan perspektif langsung mengenai bahaya ideologi kekerasan kepada para siswa.
## Sekolah Jadi Zona Integritas
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, mengatakan dunia pendidikan saat ini berada di garis depan dalam menjaga ketahanan nasional. Hal itu terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, ruang digital telah menjadi salah satu jalur utama masuknya ideologi transnasional. Ideologi itu menyasar generasi muda melalui media sosial maupun lingkungan pergaulan.
“Sekolah harus menjadi zona integritas yang aman, inklusif, dan steril dari benih-benih kebencian maupun eksklusivisme,” kata Thomas.
Ia menegaskan, pendidikan tidak hanya berfungsi mencetak siswa berprestasi secara akademik. Pendidikan juga membangun karakter kebangsaan yang kuat sebagai fondasi masa depan Indonesia.
## Pelajar Harus Cerdas & Kritis
Sementara itu, Kasatgaswil Lampung Densus 88 Antiteror Polri, Stialanri Kurniawan Setinggar, mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi negara. Hal itu penting di tengah derasnya arus informasi global.
Menurutnya, generasi muda memiliki posisi strategis sebagai penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Pelajar harus menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan tidak mudah terpengaruh propaganda yang berupaya menggantikan ideologi Pancasila,” ujarnya.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Provinsi Lampung, Suharto, menyebut sekolah merupakan benteng utama dalam pembentukan karakter bangsa.
Ia menilai wawasan kebangsaan menjadi “imun ideologis”. Imun itu mampu melindungi pelajar dari pengaruh negatif, termasuk intoleransi dan radikalisme.
“Jika nilai kebangsaan tertanam kuat, maka virus kebencian tidak akan mudah masuk ke dalam diri pelajar,” katanya.
## Eks Napiter Bagikan Kesaksian
Dalam kegiatan tersebut, narasumber Sumarna turut memaparkan tahapan berkembangnya paham terorisme. Tahapan itu mulai dari intoleransi, radikalisme, hingga berujung pada tindakan teror.
Ia menjelaskan kelompok radikal kerap memanfaatkan isu agama, sosial, maupun politik untuk merekrut anggota baru. Sasarannya khususnya kalangan muda yang sedang mencari jati diri.
“Penyebaran paham radikal kini tidak lagi terbatas pada pertemuan fisik. Penyebaran juga terjadi melalui media sosial, pergaulan, lingkungan pendidikan, bahkan relasi keluarga,” jelasnya.
Sebagai penguatan materi, kegiatan ini juga menghadirkan mantan narapidana terorisme asal Lampung, Meilani Indra Dewi. Ia membagikan pengalaman hidupnya kepada para siswa.
Dalam testimoninya, ia mengungkap perilaku negatif seperti bullying, tawuran, hingga perasaan terasing sering menjadi pintu masuk kelompok radikal mendekati anak muda.
“Kelompok radikal sering menawarkan rasa diterima dan persaudaraan semu kepada mereka yang merasa tersisih,” ungkapnya.
Ia mengajak pelajar menjaga semangat toleransi, memperkuat persatuan, serta tidak mudah terpengaruh ajaran yang berpotensi memecah belah bangsa.
Melalui sosialisasi wawasan kebangsaan ini, pelajar di Provinsi Lampung diharapkan memiliki ketahanan ideologi yang kuat. Mereka juga diharapkan mampu berpikir kritis di era digital, serta menjadi agen perdamaian yang menjaga persatuan dan keutuhan bangsa sejak dari lingkungan sekolah.











