Teguh Santosa: Era Prabowo Hadapi Tantangan Geopolitik Baru, Ketahanan Nasional Jadi Kunci

- Jurnalis

Sabtu, 16 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa. / istimewa

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa. / istimewa

PROYEKSI.ID, PALEMBANG – Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, memaparkan dinamika kepemimpinan nasional dan tantangan geopolitik global di hadapan puluhan content creator dalam workshop yang digelar di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (16/5/2026).

Dalam pemaparannya, Teguh menekankan bahwa setiap era kepemimpinan memiliki tantangan berbeda sehingga kebijakan yang diambil para pemimpin Indonesia tidak bisa disamakan.

“Setiap masa memiliki tantangan yang berbeda. Pemimpin pada setiap masa itu pun mengambil kebijakan yang berbeda yang intinya adalah agar Indonesia bisa tetap survived di tengah pergolakan dunia,” kata Teguh saat membuka sesi diskusi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) itu membandingkan karakter kepemimpinan nasional mulai dari era Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, hingga Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, Presiden Soekarno menghadapi tantangan menjaga kemerdekaan politik di tengah perang dingin dan arus dekolonisasi. Sementara Soeharto dihadapkan pada stabilitas ekonomi dan integrasi nasional pasca-1965. Di era Habibie, tantangan terbesar adalah menyelamatkan ekonomi nasional saat krisis moneter sekaligus mengawal transisi demokrasi.

“Masuk ke era Prabowo, tantangannya berubah lagi. Dalam beberapa bulan pertama 2026 saja kita sudah menyaksikan runtuhnya sistem internasional oleh pertikaian yang melibatkan superpower,” ujarnya.

Teguh menjelaskan, melemahnya tatanan multilateral global membuat Indonesia tidak lagi bisa bergantung sepenuhnya pada jaminan keamanan maupun ekonomi internasional. Kondisi tersebut mendorong pemerintah memperkuat konsolidasi internal nasional.

Baca Juga :  Anggaran Daerah Perlu Efisien & Tepat Sasaran, Komisi II Dorong Prioritaskan Program Pro Rakyat

Karena itu, lanjutnya, kebijakan Presiden Prabowo diarahkan untuk memperkuat ketahanan nasional di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, politik, teknologi, hingga pertahanan.

Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai prinsip inclusive security atau keamanan inklusif.

“Indonesia tidak bisa mengandalkan keamanannya pada pihak lain, baik negara tetangga maupun sistem internasional itu sendiri. Keamanan inklusif artinya kita membangun kemampuan bertahan dari dalam, kita bertanggung jawab pada keamanan kita,” tegasnya.

Dalam konteks itu, Teguh menilai sejumlah program pemerintah seperti makan bergizi gratis, koperasi merah putih, sekolah rakyat, dan hilirisasi industri merupakan bagian dari strategi memperkuat fondasi nasional.

“Ini bukan sekadar program sosial. Ini kebutuhan memperkuat fondasi dan kuda-kuda bangsa agar tidak goyah ketika badai datang,” katanya.

Ia juga membandingkan strategi tersebut dengan pengalaman China pada awal 2000-an yang melakukan industrialisasi dan hilirisasi secara masif untuk memperkuat ekonomi domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok asing.

“Prabowo pun melihat Indonesia harus melakukan hal itu. Tanpa hilirisasi, kita akan terus jadi pengekspor bahan mentah dan pengimpor barang jadi. Posisi itu membuat kita rentan secara struktural,” ujar Teguh.

Dalam pemaparannya, Teguh turut mengutip pemikiran tokoh realisme politik internasional Hans Morgenthau dan Kenneth Waltz.

Baca Juga :  Panggil Kapolri, Presiden Prabowo Bahas Keamanan Nasional dan Program Strategis Polri

Menurutnya, Morgenthau menekankan bahwa politik internasional pada dasarnya merupakan perebutan kekuasaan sehingga setiap negara harus mampu menjaga kepentingan nasionalnya sendiri.

“Morgenthau mengingatkan bahwa moralitas universal tidak bisa menggantikan kepentingan nasional. Negara harus mengurus dirinya sendiri terlebih dulu,” katanya.

Sementara Kenneth Waltz, lanjut Teguh, menilai sistem internasional bersifat anarkis sehingga negara tidak dapat sepenuhnya bergantung pada negara lain.

“Waltz bilang, di sistem tanpa otoritas pusat, negara tidak bisa berharap pada kebaikan negara lain. Yang bisa diandalkan hanya kemampuan sendiri,” ujarnya.

Teguh menilai pendekatan ketahanan nasional yang dijalankan pemerintahan Prabowo sejalan dengan logika tersebut, yakni memperkuat kapasitas domestik di sektor pangan, energi, teknologi, dan pertahanan.

Menutup paparannya, Teguh mengajak para content creator memahami konteks geopolitik di balik berbagai kebijakan publik agar narasi yang dibangun tidak sekadar mengikuti arus informasi.

“Narasi yang kalian bangun harus berbasis pemahaman bahwa Indonesia sedang menata ulang posisinya. Bukan sekadar mengikuti arus, tapi menciptakan arus sendiri,” tutupnya. (Sekber/Red)

Berita Terkait

Lampung Dukung Percepatan Koperasi Merah Putih, 345 Unit Berdiri Jadi Terbanyak di Luar Jawa
Milangkala Tatar Sunda 2026 Picu Kepadatan Bandung, KAI Minta Penumpang Berangkat Lebih Awal
Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus 2026, Jasa Marga Prediksi 1,5 Juta Kendaraan Melintas di Tol Jabotabek
ABPEDNAS dan SUCOFINDO Bangun 70 Sumur Air Bersih di Desa, Dimulai dari Aceh
VRITIMES Hadir Sebagai Media Partner SCALECON 2026 Surabaya, Berbagi Wawasan tentang AI dan Masa Depan Media Digital
DPR RI dan Wartawan Parlemen Perkuat Sinergi untuk Transparansi Informasi Publik
KUHAP Baru Dinilai Jawab Tuntutan Reformasi Polri, Perkuat Perlindungan Hak Warga
Penumpang KA Pariaman Ekspres Tembus 140%, KAI Divre II Sumbar Layani 23 Ribu Pelanggan pada Libur Hari Buruh 2026

Berita Terkait

Sabtu, 16 Mei 2026 - 22:11 WIB

Teguh Santosa: Era Prabowo Hadapi Tantangan Geopolitik Baru, Ketahanan Nasional Jadi Kunci

Sabtu, 16 Mei 2026 - 16:49 WIB

Lampung Dukung Percepatan Koperasi Merah Putih, 345 Unit Berdiri Jadi Terbanyak di Luar Jawa

Jumat, 15 Mei 2026 - 19:11 WIB

Milangkala Tatar Sunda 2026 Picu Kepadatan Bandung, KAI Minta Penumpang Berangkat Lebih Awal

Kamis, 14 Mei 2026 - 13:16 WIB

Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus 2026, Jasa Marga Prediksi 1,5 Juta Kendaraan Melintas di Tol Jabotabek

Senin, 11 Mei 2026 - 10:48 WIB

ABPEDNAS dan SUCOFINDO Bangun 70 Sumur Air Bersih di Desa, Dimulai dari Aceh

Berita Terbaru