PROYEKSI.ID, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya menjalankan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 secara konsekuen.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam pidatonya pada Rapat Paripurna DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Menurut Presiden, Pasal 33 merupakan cetak biru perekonomian nasional yang harus menjadi pedoman utama dalam mengelola kekayaan bangsa demi kesejahteraan rakyat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Di mimbar ini saya ingin ingatkan kembali bunyi dari Pasal 33. Ayat pertama dari Pasal 33. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan,” ujar Prabowo.
Tolak Neoliberal dan Konglomerasi
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menegaskan falsafah ekonomi Indonesia tidak dibangun berdasarkan prinsip kapitalisme neoliberal ataupun sistem yang hanya menguntungkan kelompok tertentu.
“Tidak ada kata-kata asas-asas lain. Asas kapitalisme neoliberal, asas konglomerasi, asas yang sekaya boleh sekaya-kayanya, yang miskin salahnya orang miskin. Itu bukan falsafah Pancasila,” tegas Presiden.
Prabowo menilai para pendiri bangsa telah merumuskan arah ekonomi nasional dengan sangat jelas melalui Pasal 33 UUD 1945.
Karena itu, berbagai persoalan ekonomi saat ini dinilai tidak terlepas dari penyimpangan terhadap amanat konstitusi.
“Ini adalah cetak biru ekonomi kita, saudara-saudara sekalian. Manakala kita menyimpang cetak biru ini, ya jangan salahkan siapa-siapa, kecuali diri kita sendiri,” kata Presiden.
Soroti Tambang Ilegal dan Kebocoran 150 Miliar Dolar AS
Presiden juga menyoroti praktik penyimpangan ekonomi seperti under invoicing, manipulasi ekspor, tambang ilegal, hingga pembalakan hutan ilegal yang merugikan negara.
Ia secara khusus mempertanyakan lemahnya penegakan hukum terhadap tambang ilegal di kawasan hutan lindung.
“Bagaimana bisa ada orang yang tambang di hutan lindung bertahun-tahun dan tidak ada yang berani untuk menegakkan hukum,” tegas Prabowo.
Kepala Negara mengungkapkan, potensi dana yang dapat diselamatkan dari kebocoran ekonomi nasional diperkirakan mencapai 150 miliar dolar Amerika Serikat per tahun.
Namun, keberhasilan penyelamatan tersebut bergantung pada keberanian dan tekad seluruh pihak untuk melakukan pembenahan.
“Kita harus bersama-sama berani mencari solusi dan berani bertindak,” ujar Prabowo.
Menutup pidato, Presiden mengingatkan bahwa Indonesia tidak akan mendapat hasil lebih baik jika terus mengulangi kesalahan yang sama.
“Kita paham dan mengerti bahwa kalau kita terus mengulangi kesalahan yang sama, janganlah kita bisa berharap mendapat hasil yang lebih baik,” tandasnya. ( BPMI Setpres/May)










