PROYEKSI.ID, BANDARLAMPUNG — Kegiatan diskusi dan bedah film Pesta Babi yang semula dijadwalkan berlangsung di Kibara Aceh, lingkungan Universitas Malahayati, dipastikan berpindah lokasi. Pihak kampus disebut tidak mengizinkan penggunaan tempat tersebut untuk kegiatan yang akan digelar Sabtu, 16 Mei 2026, pukul 18.10 WIB.
Rektorat Universitas Malahayati beralasan lokasi tersebut akan digunakan untuk kegiatan sosial santunan anak yatim.
Meski demikian, panitia dari Gerakan Pemuda Lampung (GPL) dan BEM Malahayati memastikan kegiatan tetap dilaksanakan sesuai jadwal. Acara dipindahkan ke Cafe Roemah Jus, Jalan Pramuka, Bandar Lampung, yang berada tidak jauh dari kampus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua kegiatan, Muhammad Yasir Setiawan, mengatakan sebelumnya pihak rektorat telah memberikan persetujuan penggunaan lokasi pada Rabu (13/5/2026). Namun, sehari kemudian panitia menerima informasi bahwa kegiatan tidak dapat dilaksanakan di lokasi semula.
“Apapun dasar dan alasannya, apakah benar seperti yang disampaikan ada kegiatan sosial santunan anak yatim piatu atau ada hal lain, kami tidak tahu. Tapi kami tetap menghormati keputusan pihak kampus,” ujar Yasir, Jumat (15/5/2026).
Panitia menghadirkan enam pemantik dalam diskusi tersebut, yakni Direktur Eksekutif WALHI Lampung Irfan Tri Musri, Ketua AJI Bandar Lampung Dian Wahyu Kusuma, dosen Teknik Lingkungan Universitas Malahayati Mokhram Ari Arbi, tokoh adat M. Arif Sanjaya Tuan Penutup Bangsorayo Sakti, Ketua Umum DPP YLHBR-ABR Indonesia Hermawan, serta anggota DPRD Provinsi Lampung M. Syukron Muchtar.
Kegiatan akan dipandu Sujarwo Songha sebagai moderator, sementara closing statement disampaikan Ketua Pelaksana Muhammad Yasir Setiawan.
Panitia berharap diskusi dan bedah film tersebut menjadi ruang edukasi publik yang sehat, terbuka, dan kritis dalam membahas persoalan sosial maupun lingkungan.
“Kami ingin masyarakat lintas generasi, khususnya anak muda, semakin sadar bahwa lingkungan hidup dan kondisi sosial di sekitar kita adalah tanggung jawab bersama. Karena itu kegiatan ini tetap harus berjalan,” kata Yasir.
Sementara itu, Adit Gumilang selaku peserta sekaligus penyelenggara kegiatan menilai diskusi tersebut menjadi langkah progresif untuk membangun ruang dialog yang kritis dan terbuka.
“Kami percaya karya film dapat menjadi media edukasi, refleksi, sekaligus penguatan nilai demokrasi dan kebebasan berpikir di tengah kehidupan berbangsa,” ujar Ketua DPW YLHBR-ABR Lampung itu. (*/Ndr)










